Berita Kendal

Video Pembubaran Tasyakuran HUT RI Viral, Kades Kebonagung Kendal Minta Maaf: Itu Miskomunikasi

Kepala Desa Kebonagung Kendal, Widodo, meminta maaf terkait penyelenggaraan tasyakuran HUT RI di masa PPKM yang kemudian viral di media sosial.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
Kades Kebonagung, Ngampel Kendal, Widodo (kanan) memberikan keterangan terkait viralnya video tasyakuran HUT RI, Kamis (19/8/2021) di Mapolsek Pegandon. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Kepala Desa Kebonagung Kendal, Widodo, meminta maaf terkait penyelenggaraan tasyakuran HUT RI di masa PPKM yang kemudian viral di media sosial.

Permintaan maaf itu disampaikan Widodo saat menyambangi Polsek Pegandon, Kamis (19/8/2021). Widodo tak sendiri, dia ditemani Ketua Paguyuban Kepala Desa Bahurekso Kendal, Abdul Malik.

Kepada Kapolsek Pegandon AKP Zaenal Arifin, Widodo juga memnta maaf lantaran terjadi adu mulut dengan aparat yang membubarkan warga. Dalam video yang beredar, seolah terjadi penentangan desa kepada kepolisian.

"Saya ke sini (Polsek Pegandon), mau minta maaf atas kejadian kemarin malam. Itu miskomunikasi antara kades dengan pihak kepolisian," terang Widodo di mapolsek, Kamis.

Baca juga: Viral, Polisi Adu Mulut dengan Kades dan Bubarkan Dangdutan Tasyakuran HUT RI di Kebonagung Kendal

Baca juga: Separo Warga Binaan Lapas Kendal Dapat Remisi, Satu Langsung Bebas, Ini Data Lengkapnya

Baca juga: Nabila, Siswi SMAN 1 Boja Kendal Bergabung di Paskibraka Nasional: Tiap Hari Latihan Fisik 1-1,5 Jam

Baca juga: Begini Kronologi Penangkapan Terduga Teroris di Kendal, Hadi Sudah Diintai Sejak Mei 2021

Widodo mengaku menyesal atas kejadian itu. Apalagi, pada dasarnya, kepala desa dan kepolisian, sama-sama bertugas sebagai tim Satgas Covid-19.

Terkait viralnya video itu, Widodo menjelaskan, awalnya, dia tak mengetahui ada warga yang menggelar tasyakuran saat PPKM masih berlangsung.

Ia pun mengaku kaget ketika ada salah satu warga melapor malam itu.

Sementara ia tidak pernah mengizinkan apapun kegiatan yang megumpulkan massa sampai PPKM selesai.

"Dari pukul 1 siang (hari kejadian,red), saya ngantar warga saya ke Semarang. Pulang maghrib, sampai balai desa isya, sudah ada tamu. Ada yang izin hajatan bulan depan, saya tidak izinkan. Ada yang lapor hajatan, saya datang ke lokasi, saya lihat ada polisi tetapi bukan kapolsek atau Bhabinkamtibmas Kebonagung di atas panggung," tuturnya.

Widodo mengaku melihat Bhabinkamtibmas Ngampel Wetan, Sudipayung, dan Dempelrejo di lokasi. Namun, ia merasa tidak diberitahu soal penegakan aturan terhadap warganya.

Hal tersebut memicu adanya adu mulut kades dengan aparat kepolisian, termasuk kapolsek Pegandon yang naik ke panggung belakangan.

Atas dasar itulah, Widodo bersama Paguyuban Kades meminta maaf kepada jajaran kepolisian atas suatu kejadian yang tidak mengenakkan itu.

Ia juga berjanji melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak terjadi hal yang sama ke depannya.

"Setelah kejadian itu, warga juga saya minta bubar. Selama saya menangani Covid-19, warga Kebonagung yang tadinya ramai dangdutan hajatan, saya larang," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved