Breaking News:

Berita Jepara

Melihat Pembuatan Gerabah di Mayong Jepara, Gunakan Papan dan Tali Kalar saat Proses Pembubutan

Warga Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, itu dengan mahir membentuk tanah liat menjadi kendil dan beragam bentuk lain.

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/MUHAMMAD YUNAN SETIAWAN
Sulastri (52) sedang melakukan proses pembubutan atau mengubah gumpalan tanah liat menjadi kendi di rumahnya di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Rabu (28/7/2021). Sulastri merupakan satu di antara perajin gerabah tradisional di Jepara. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Dalam hitungan menit, Sulastri (52), rampung memproses satu kendil berukuran sedang.

Warga Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, itu dengan mahir membentuk tanah liat menjadi kendil dan beragam bentuk lain.

Lebih dari separuh umurnya telah dihabiskan menggeluti bisnis gerabah.

Sulastri mengatakan, kendil yang dibuat berbagai ukuran. Ada bentuk kecil untuk wadah sesaji atau ari-ari bayi.

Proses pembuatannya melewati beberapa tahap. Mulai dari pemadatan tanah liat, kemudian pembubutan, dilanjut penjemuran, dan diakhiri dengan pembakaran.

Baca juga: Karimunjawa Jepara Masih Ditutup untuk Wisatawan, Dampak Perpanjangan PPKM Darurat

Baca juga: Pemuda asal Mlongo Jepara Tewas setelah Jaring Ikan di Pantai Pailus, Tersengat Ubur-ubur di Lengan

Baca juga: Tes Swab Jadi Syarat Pernikahan di Jepara. Tersedia Fasilitas Gratis, Termasuk bagi Saksi dan Wali

Baca juga: Kunjungi Mbah Min, Pengrajin Biola asal Kudus, Gubernur Ganjar: Ini Karya Keren!

Apa yang disebut tahapa pembubutan itu adalah proses pengubahan gumpalan tanah liat menjadi kendil.

Teknisnya, gumpalan tanah itu diletakan di atas lingkaran papan. Kemuduan, di bawah papan, tersambung tali kalar untuk memutar papan tersebut.

Dan di depan papan itu, kaki kanan Sulastri menarik tali kalar, sambil dua tangannya cekatan mengubah gumpalan tanah liat menjadi kendi.

Dia menerangkan, selama ini, penjualan kerajinan gerabah tradisional tersebut bergantung pada agen.

Dia tidak perlu repot-repot memasarkan produk kerajinannya, tinggal menunggu sang agen datang mengambil barang.

"Kalau agen ngambilnya 1000 barang itu dihargai Rp 1 juta," kata dia saat ditemui di rumahnya, Rabu (28/7/2021).

Dari agen, kerajinan gerabah tersebut dipasarkan ke berbagai kota, tergantung daerah asal pemesan.

Baca juga: Pejabat dan ASN di Banyumas Urunan, Setiap Hari Bagikan 200 Dus Makanan ke Warga Terdampak PPKM

Baca juga: Cegah Penularan Covid di Lapas, 13.800 Warga Binaan Lapas di Jateng Dapat Vaksin Covid

Baca juga: Disumbang Rahmat Erwin Medali Perunggu dari Angkat Besi, Berikut Urutan Indonesia di Olimpiade Tokyo

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Pagi Ini, Kamis 29 Juli 2021: Rp 973.000 Per Gram

Sulastri mengakui, hasil membuat gerabah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Apalagi, saat ini, dia sudah memiliki cucu. Sehingga, pekerjaan tersebut juga bisa dilakukan sebagai aktivitas sehari-hari.

"Hanya sebagai sampingan, sembari momong cucu," kata dia. (yun)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved