Breaking News:

Berita Jateng

Kurangi Dampak Parah Penurunan Muka Tanah, Ganjar dan Istri Tanam Mangrove di Pandansari Demak

Dampak penurunan muka tanah atau land subsidence di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak membuat wilayah ini langganan rob.

TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Gubernur Jateng Ganjar dan istri sedang menanam mangrove di Dukuh Pandansari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Minggu (6/6/2021). Wilayah ini memiliki tingkat penurunan muka tanah atau land subsidence cukup parah di wilayah Demak. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Dampak penurunan muka tanah atau land subsidence di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak membuat wilayah ini langganan rob.

Bahkan, sebagian daratan sudah tenggelam sehingga memaksa sejumlah kepala keluarga pindah ke lokasi yang lebih tinggi.

Selain di Demak, di Jawa Tengah, penurunan muka tanah parah juga terjadi di Kota Semarang dan Kota Pekalongan.

Bahkan, penurunan muka tanah di Kota Pekalongan tertinggi di dunia, yakni 1-20 sentimeter per tahun.

Terkait kondisi ini, Gubernur Ganjar Pranowo beserta istri, Siti Atikoh, menanam mangrove atau bakau untuk mengurangi dampak penurunan muka tanah di area penurunan muka tanah di Dukuh Pandansari, Desa Bedono, Minggu (6/6/2021).

Baca juga: Keliling Silaturahim Bertelanjang Kaki, Warga Clumprit Pekalongan Rayakan Idulfitri di Tengah Rob

Baca juga: Gubernur Ganjar Pranowo Minta Rp 3,19 Triliun, Tangani Banjir dan Rob Kawasan Pantura Jateng

Baca juga: Akhir Pekan Ini, Warga Kudus Diminta di Rumah Saja, Begini Respon Gubernur Ganjar Pranowo

Baca juga: Lakukan Testing dan Tracing Lebih Banyak Lagi, Ganjar Pranowo: Upaya Preventif Tekan Kasus di Jateng

Kegiatan tanam mangrove ini dilakukan sekaligus untuk memperingati hari lahir Soekarno dan Hari Lingkungan Hidup.

"Mumpung kemarin pas peringatan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Bung Karno, ini saya pakai kausnya Bung Karno. Kita juga bicara Pancasila dalam implementasinya, ini sama. Kalau menanam ini nanti lahirlah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia karena butuh adil, lingkungannya terjaga, dan tidak tenggelam," kata Ganjar, dalam keterangan tertulis, Minggu.

Ganjar menjelaskan, daerah Pandansari merupakan area rawan tenggelam karena mengalami penurunan muka tanah atau land subsidence cukup parah.

Kondisi ini pun memerlukan perhatian dari semua kalangan untuk bersama menggalakkan penanaman mangrove.

Selain bisa menjaga lingkungan, tanaman mangrove juga bermanfaat bagi warga sekitar sehingga nilai keadilan sosial bisa terwujud.

"Kita lihat yang di sana itu (menunjuk genangan rob), 20 tahun lalu (masih berbentuk) sawah dan sekarang sudah tenggelam. Ini persoalan serius maka kita bersama bupati, camat, kepala desa, masyarakat, bahkan anak-anak sekolah, menanam mangrove. Ini juga akan banyak hikmahnya, kalau ada mangrove maka nanti ikannya juga bisa banyak, lingkungan terjaga," ujarnya.

Baca juga: Penumpang KMP Kalibodri Rute Kendal-Kumai Melonjak, Calon Penumpang Cukup Pakai Hasil Rapid Tes

Baca juga: Warga Keluhkan Kondisi Jalan Menuju Bandara JB Soedirman Purbalingga, Berlubang dan Bergelombang

Baca juga: Inflasi Purwokerto di Bulan Mei 2021 Tercatat 0,19 Persen, Terbanyak Disumbang Tarif Transportasi

Baca juga: Mulai Besok, Warga Positif Covid di Kudus yang Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Dipindah ke Donohudan

Selain itu, Ganjar juga berpesan dan mengajak masyarakat mulai bersama menjaga lingkungan.

Hal itu bisa dilakukan lewat tindakan mudah atau sederhana. Misalnya, mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah.

"Kita butuh dukungan masyarakat. Sebentar lagi, kita akan ada kongres sampah, mudah-mudahan kita punya formula yang disepakati oleh masyarakat," ujarnya. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved