Berita Pendidikan

Inovasi Siswa SMP Negeri 6 Cilacap: Olah Tempe Busuk Jadi Pupuk Tanaman di Sekolah

Siswa SMP Negeri 6 Cilacap memanfaatkan tempe busuk sebagai pupuk tanaman, setelah dicampur tape dan gula pasir.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Zahra Amelia al Fatah, siswi di SMPN 6 Cilacap, menunjukkan bahan-bahan pupuk organik yang dibuat dari tempe busuk, Kamis (27/5/2021). Agar bermanfaat sebagai pupuk, tempe harus dicampur tape, gula, dan air. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Tempe merupakan makanan khas Indonesia yang sangat merakyat. Namun, produksi tinggi yang tidak terserap atau tak termanfaatkan, sering kali membuat tempe hanya menjadi limbah lantaran busuk.

Kondisi ini justru ditangkap siswa di SMP Negeri 6 Cilacap sebagai peluang.

Dibawah bimbingan calon guru penggerak, Isnaeni Sumiarsih, mereka mengolah tempe busuk menjadi pupuk.

Tempe busuk dilarutkan dalam air dicampur tape untuk memfermentasi, dan gula pasir sebagai nutrisi.

Isnaeni mengungkapkan, pupuk cair tersebut nantinya akan digunakan sebagai pupuk tanaman yang ada di sekolah.

"Sekolah kami, saat ini, Adiwiyata Nasional, menuju Adiwiyata Mandiri. Jadi, inovasi tentang lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan," jelasnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (27/5/2021).

Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Awas Gelombang Tinggi Hingga Enam Meter di Pesisir Cilacap

Baca juga: Pertamina Bangun Infrastruktur Gas Alam Cair di Kilang Cilacap, Gandeng PT Badak LNG

Baca juga: 33 Nakes RSUD Cilacap Diisolasi Terpusat di RS Priscilla Medical Center Sampang

Baca juga: Pemkab Cilacap Belum Terapkan WFH ASN, Ini Alasan Sekda Farid Maruf

Ia menjelaskan, pupuk cair buatan para siswa nanti digunakan untuk memupuk bunga dan sayur yang ada di sekolah. Juga, tanaman gantung Wijayakususma yang ada, yang merupakan tanaman endemik khas Cilacap.

"Dengan pupuk cair ini, kami sama sekali tidak lagi memakai pupuk kimia untuk memupuk tanaman yang kami miliki," jelasnya.

Salah satu siswa yang ikut membuat pupuk berbahan tempe busuk, Zahra Amelia al Fatah, mengungkapkan, dirinya senang dilibatkan dalam proses pembuatan pupuk ini.

Menurutnya, ini pengalaman baru yang sangat bermanfaat.

"Dari pelajaran membuat pupuk ini, kami jadi tahu kalau ternyata, banyak limbah di sekitar rumah yang masih bisa dimanfaatkan menjadi hal berguna," ujar Zahra.

Kepala SMPN 6 Cilacap Anteng Widiastuti mengungkapkan, inovasi calon guru penggerak di sekolahnya sangat membantu mewujudkan konsep merdeka belajar dan juga mendukung terwujudnya sekolah Adiwiyata mandiri.

Inovasi tersebut juga menjadi bukti, pandemi Covid-19 tak menghalangi sekolah terus dijalankan program Adiwiyata.

Baca juga: Restoran dan Kafe di Kudus Dilarang Melayani Pembeli Makan di Tempat, Berlaku hingga 8 Juni

Baca juga: Dinkes Temukan 30 Pemudik di Banyumas Positif Covid, Tes Antigen Massal Acak Merambah Hotel dan Toko

Baca juga: Toleransi di Aribaya Banjarnegara: Giliran Muslim Berjaga di Wihara saat Umat Buddha Ibadah Waisak

Baca juga: Keraton Solo Berduka. GRAy Koes Isbandiyah, Putri PB XII Berpulang saat Lihat Gerhana Bulan

Justru, muncul inovasi baru dimana siswa juga menerapkan konsep Adiwiyata dari rumah.

Artinya, cinta lingkungan sudah bukan lagi jargon di sekolah semata namun sudah membudaya sampai di rumah.

Juga, belajar tidak terbatas di sekolah tetapi bisa juga di mana saja. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved