Berita Banjarnegara

Embun Es Dieng Muncul Terlalu Awal sebelum Musim Kemarau Tiba, Begini Penjelasan BMKG

Kemunculan embun es atau bun upas kali ini agak mengejutkan karena terjadi di bulan Mei 2021. Padahal, sebelumnya, embun es muncul di musim kemarau.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Embun es menutupi rumput liar di sekitar Candi Arjuna Dieng, Senin (10/5/2021) pagi. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Dataran tinggi Dieng, khususnya di kawasan Candi Arjuna di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, kembali diselimuti embun es.

Kemunculan embun es atau bun upas kali ini agak mengejutkan karena terjadi di bulan Mei 2021. Padahal, sebelumnya, embun es biasa muncul di musim kemarau, di bulan Juni hingga Agustus.

Sementara, saat ini, hujang terkadang masih mengguyur Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya.

Terkait kejadian ini, Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayodhie memiliki penjelasan.

Baca juga: Hamparan Rumput di Candi Arjuna Memutih, Embun Es Kembali Selimuti Dieng

Baca juga: Ingin Lihat Embun Es Dieng? Biar Tidak Kecele Baiknya Kenali Dahulu Tandanya, Seperti Berikut Ini

Baca juga: Ajak Warga Jaga Prokes, Bupati Banjarnegara Bagi Susu dan Masker di Turnamen Voli di Desa Merden

Baca juga: Mengenang KH Busyro Syuhada, Jawara Asal Banjarnegara, Gembleng Jenderal Soedirman Jadi Pendekar

Menurutnya, embun es di Dieng kali ini disebabkan fenomena massa udara kering.

"Sebenarnya, saat ini, wilayah Banjarnegara dan sekitarnya belum memasuki musim kemarau. Kejadian itu lebih karena kondisi yang kering (suppressed) yang disebabkan fenomena massa udara kering," jelasnya, Senin (10/5/2021).

Ajie menjelaskan, citra satelit Himawari tanggal 8 sampai 10 Mei 2021 mencatat, pertumbuhan awan konvektif aktif pada Sabtu (8/5/2021) dan berangsur berkurang secara signifikan pada siang hingga sore hari.

Menjelang Minggu (9/5/2021) dini hari, perawanan cenderung cerah dan tipis hingga Senin dini hari.

Energi panas matahari yg terpantul dari bumi langsung hilang ke atmosfer sehingga tidak ada pantulan balik ke bumi.

Kondisi ini, jika terjadi terus menerus, menyebabkan udara semakin dingin.

"Perlu diketahui bahwa tanah lebih mudah menyerap panas dan lebih mudah melepaskan panas, ditambah lagi dengan topografi Dieng berupa dataran tinggi," katanya.

Hasil observasi suhu pada AWS Batur menunjukkan, pada tanggal 9 Mei 2021 pukul 18.50 WIB, terukur suhu sudah mulai di bawah 10 derajat Celcius.

Baca juga: Bandara JB Soedirman Purbalingga Akan Dibuka 1 Juni, Terminal Penumpang Sementara Pakai Tenda

Baca juga: Tertangkap OTT KPK, Bupati Nganjuk Diamankan Bersama 9 Orang. Diduga Terkait Kasus Jual Beli Jabatan

Baca juga: Bantu Warga Terdampak Covid, Pemdes Kasih Purbalingga Pekerjakan Pemuda Tani Tanam Bibit Jambu

Baca juga: Resep Kari Lontong, Mudah Disiapkan sebagai Hidangan Lebaran Nanti

Kemudian, mulai pukul 22.30 WIB hingga tanggal 10 Mei pukul 06.30 WIB, suhu terukur di bawah 5 derajat Celcius dengan variasi 3 derajat Celcius hingga 5 derajat Celcius.

Data pengukuran suhu menunjukkan penurunan suhu yang cukup signifikan hingga mendekati nol derajat yang berpotensi terbentuknya bun upas di permukaan tanah.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah Dieng lebih mengenal tanda-tanda alam yang berpotensi terjadi bun upas.

Bagi para petani diharapkan aktif berkonsultasi dengan PPL Pertanian terkait bagaimana memperlakukan tanaman.

"Sehingga, meminimalkan dampak kerugian akibat bun upas, " katanya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved