Berita Banyumas

Curhat Pemilik Jasa Travel di Purwokerto di Tengah Larangan Mudik: Terpaksa Tawarkan untuk Wisata

Larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah membuat sebagian besar pemilik jasa travel di Purwokerto, Banyumas, gigit jari.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Permata Putra Sejati
Armada mini bus milik salah satu pengusaha travel di Purwokerto yang terparkir karena tidak beroperasi, Rabu (28/4/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah membuat sebagian besar pemilik jasa travel di Purwokerto, Banyumas, gigit jari. Harapan menjadikan momen mudik Lebaran sebagai titik bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, pupus.

Mereka dipaksa mengandangkan lagi armada kendaraan ke garasi.

Mereka pun mencoba mematuhi kebijakan pemerintah ini meski dirasa berat.

Satu di antaranya, pengusaha travel di Purwokerto, Tri Kusuma. Didampingi PR usaha travelnya, Dian Susilowati, Tri mengatakan, sebelum larangan mudik Lebaran keluar, banyak yang telah memesan kursi travel.

Baca juga: Retakan Tanah Mulai Terlihat, BPBD Banyumas Petakan 4 Kecamatan Rawan Longsor

Baca juga: Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas saat Libur Lebaran, Dishub Banyumas Optimalkan 18 Kamera Pengawas

Baca juga: Loka POM Banyumas Temukan Teri Formalin, Hasil Sampel di Pasar Manis Purwokerto

Baca juga: BI Purwokerto Tidak Lagi Layani Jasa Penukaran Uang, Jelang Lebaran Langsung ke Bank Umum

Sementara, Dian menambahkan, saat ini, usaha travel hanya berjalan 20 persen dibanding sebelum pandemi Covid-19 melanda.

"Dari 25 armada yang ada, yang beroperasi paling hanya 5-7 kendaraan saja. Dengan kapasitas, maksimal 5 orang per kendaraan, dari kapasitas normal, 8 orang," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (28/4/2021).

Menurutnya, pihaknya melayani perjalanan sejumlah rute. Namun, permintaan paling banyak untuk tujuan Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Sementara, perjalanan ke Jakarta, didominasi pengiriman paket barang.

Kondisi ini pun mempengaruhi keuangan usaha. Akhirnya, pekerja yang semula bekerja 26 hari dalam sebulan, kini hanya 10 hari. Gaji yang diterima pun menyesuaikan.

"Kami selalu mengingatkan penumpang agar punya surat rapid antigen," tambah Dian.

Pada 6-17 Mei 2021 nanti, pihaknya tidak akan mengangkut pemudik.

Sebagai ganti, pihak travel menyediakan jasa angkutan wisata di dalam kabupaten yang bisa dimanfaatkan warga lokal.

Lain halnya dengan pengusaha travel di Cilacap, FO (40). FO mengatakan, pihaknya akan tetap beroperasi saat libur Lebaran meski mudik dilarang.

Baca juga: Takut Ketahuan, Pencuri di Karanganyar Simpan Perhiasan Emas Curian di Tepi Sungai. Beberapa Hanyut

Baca juga: Takmir Masjid di Kabupaten Semarang Wajib Lapor ke Polsek setempat Jika Ingin Gelar Salat Idulftri

Baca juga: Warga Indramayu Diamankan saat Melaju di Banyumas, Bawa Belasan Ribu Petasan Menuju Kebumen

Baca juga: Resep Es Doger Ketan Hitam, Segar Dihidangkan sebagai Hidangan Buka Puasa

Menurutnya, permintaan masih ada, dan akan tetap dilayani.

"Maksimal, harusnya tanggal 6 Mei karena setelah itu dilarang. Tapi, kalau setelah tanggal 6 masih bisa tembus, akan kami layani saja, dalam artian lihat kondisi di lapangan," ungkap pemilik jasa travel yang meminta namanya tak diungkap lengkap itu.

Ia mengatakan, sejak awal pandemi Covid-19, ia masih bisa mengoperasikan travel untuk Jalan.

"Padahal sekarang kondisinya jauh lebih baik dan coba bangkit," ujarnya.

FO mengatakan, saat ini, dia banyak menerima pemudik dari Jakarta menuju Banyumas dan sekitarnya.

"Harapannya, kembali normal, jangan ada pelarangan di jalan. Selama pandemi ini, kerugian di Maret itu 50 persen karena penumpang pada takut," tutupnya. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved