Breaking News:

Berita Semarang

Dua Kali Ramadan, Pengrajin Rebana di Ambarawa Gagal Panen Pesanan Akibat Wabah Covid-19

Pengrajin rebana asal Ambarawa, Muhammad Khamim (66) mengatakan, pesanan rebana buatannya anjlok sejak tahun lalu, saat Covid-19 mulai melanda.

TRIBUNBANYUMAS/M NAFIUL HARIS
Pengrajin rebana Muhammad Khamim sedang mengerjakan pesanan di rumahnya di Jalan Sanggrahan RT 01 RW 02 Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (15/4/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Kebijakan larangan berkerumun selama pandemi Covid-19 berdampak pada penyedia alat musik tradisional, semisal rebana. Bahkan, masuknya bulan suci Ramadan juga tidak meningkatkan pesanan.

Seorang pengrajin rebana asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, Muhammad Khamim (66) mengatakan, sepinya permintaan pembuatan alat musik rebana telah berlangsung sejak Ramadan tahun lalu.

"Jadi, Ramadan ini tahun kedua sepi orderan. Ibadah kaum muslim lebih banyak tadarus, tarawih, tidak ada kegiatan pentas musik rebana," terangnya saat ditemui Tribunbanyumas.com di rumahnya di Jalan Sanggrahan RT 01 Rw 02 Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kamis (15/4/2021).

Baca juga: Mengintip Aktivitas Ponpes Lansia Banyubiru Semarang kala Ramadan: Santri Mengaji dan Ikut Pelatihan

Baca juga: Cerita Nakes Kabupaten Semarang Bikin Lagu Religi, Ipung Purwadi Sedang Rindukan Bimbingan Tuhan

Baca juga: BPBD Kabupaten Semarang Libatkan Difabel dalam Mitigasi Bencana: Biar Siap saat Terjadi Bencana

Baca juga: DPRD Kabupaten Semarang: Kami Sudah Usulkan Insentif Khusus Awak Bus, Dampak Larangan Mudik

Khamim, yang memproduksi rebana sejak 1994, memilih bertahan di tengah pandemi Covid-19 karena amanat orangtua.

Dia merupakan generasi kedua sejak awal mula almarhum ayahnya, membuat rebana, di tahun 1945.

Ia menambahkan, sebelum datangnya wabah, pemesan alat musik rebana banyak datang dari Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Boyolali.

Sedangkan daerah di luar Jawa, banyak pemesan dari Sumatera dan Kalimantan.

"Di sini melayani pembuatan baru maupun servis. Untuk rebana baru, dipatok harga Rp 3 juta-Rp 6 juta per set, terdiri dari empat terbang, tiga buah bass, dan kentung. Adapun bahan terbuat dari kayu mahoni dan nangka, dengan kulit sapi atau kambing," katanya.

Khamim mengaku, sebelum adanya Corona, dia mempekerjakan enam pegawai. Kini, dia hanya mempertahankan tiga orang lantaran minimnya orderan.

Sebelum wabah, dalam sebulan, dia bisa mengerjakan minimal empat set rebana. Namun, kini pesanan turun hampir 70 persen.

"Karena ini kan terkait hiburan, ada larangan (berkumpul) di atas 10 orang tidak boleh. Pondok pesantren, kampung-kampung, juga tidak banyak kegiatan sehingga sepi. Harga kuliat per biji dulu dihargai Rp 50 ribu sekaran turun menjadi Rp 30 ribu dari awal Covid-19 masuk Indonesia," ujarnya. (*)

Baca juga: Hafal Pancasila dan Lir Ilir, 10 Jemaah Tarawih di Pengaringan Kebumen dapat Hadiah Uang dari Bupati

Baca juga: Bingung Siapkan Takjil Apa Hari Ini? Coba Saja Buat Talam Ubi Ungu. Berikut Resepnya

Baca juga: Selamat, Perencanaan Pembangunan Banyumas Raih Penghargaan Pangripta Abipraya dari Gubernur

Baca juga: Ban Belakang Kiri Pecah, Truk Bermuatan Degan Berakhir Terguling di Tol Semarang

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved