Breaking News:

Berita Semarang

Catatan Sejarah Banjir Bandang di Kota Semarang: Terparah Tahun 1990, Ketinggian Air Hampir 10 Meter

Banjir bandang beberapa kali melanda Kota Semarang. Tak hanya menggenangi permukiman, banjir juga membuat sejumlah nyawa melayang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Iwan Arifianto
Koordinator Pintu Air Bendung Simongan, Bayu Wanapati, menunjukan Monumen Banjir Bandang Semarang yang mencatat peristiwa banjir bandang di Kota Semarang, Rabu (3/3/2021). Saat ini, monumen tersebut mulai kusam dan warna angka-angkanya pudar. 

Alasannya, kawasan Kota Semarang saat ini lebih tertata.

Daerah atas sudah dibangun waduk Jatibarang yang tentunya mengurangi debit air yang mengalir ke sungai di Semarang, semisal Kaligarang dan Kali Semarang.

Baca juga: Kepada Kades, Bupati Purbalingga Minta Perbaikan Jalan dan Penerangan Jalan Jadi Prioritas Perhatian

Baca juga: TMMD Sengkuyung 2021 Banyumas Dimulai, Satu Bulan Pembangunan Jalan dan RTLH Harus Rampung

Baca juga: Bocorkan Sosok Pemilik Baru Persis Solo, Wali Kota Solo Gibran: Putra Daerah

Baca juga: Belum Ada Bioskop di Banyumas yang Buka, Dinporabudpar Tunggu Pengelola Ajukan Izin

Sebelum dibangun waduk, air yang masuk ke Bendung Simongan tercatat 1.000 liter per detik.

Kini, debit air lebih rendah dengan jumlah maksimal 750 liter per detik.

"Dalam banjir juga dikenal siklus 15 tahunan. Hal itu pasti ada namun tak akan separah dahulu," katanya.

Dia mengatakan, lebih cenderung percaya dengan momen banjir 2 tahunan. Pengamatan itu dilakukannya sejak 2016.

Secara berkala, dalam jeda 2 tahunan itu, banjir seringkali melanda Kota Semarang, termasuk di tahun 2021.

"Saya mengamati seperti itu. Ada titik elevasi ketinggian air yang persis terjadi di periodik waktu tersebut," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved