Breaking News:

Berita Teknologi

Bikin Aplikasi Plong, Dua Pelajar Asal Bandung Ini Terinspirasi Rekannya yang Depresi

Aplikasi Plong sukses mengantarkan dua pelajar ini meraih medali perak dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2020.

DISDIK JABAR
Dua pelajar SMA Negeri 1 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat berhasil membuat sebuah aplikasi untuk mengurangi risiko depresi. Aplikasi yang dibuat oleh Farhan Mandito Wirarachman dan Ananda Safira Choirunissa itu diberi nama Plong. Aplikasi itu pun sukses mengantarkan keduanya meraih medali perak dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Tahun 2020 di bidang game dan aplikasi. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANDUNG - Bikin aplikasi khusus untuk mengurangi risiko depresi, dua pelajar SMA Negeri 1 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, terinspirasi dari rekannya yang mengalami gangguan kejiwaan.

Aplikasi yang dibuat Farhan Mandito Wirarachman dan Ananda Safira Choirunissa itu kemudian diberi nama Plong.

Aplikasi itu sukses mengantarkan keduanya meraih medali perak dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2020 di bidang game dan aplikasi.

Baca juga: Transformasi Digital Kota Tegal, Pemkot Mulai Rencanakan Penerapan Kabel Telekomunikasi Bawah Tanah

Baca juga: Lanjutan Kasus Konser Dangdut Kota Tegal, Wasmad Tidak Ajukan Saksi Meringankan: Cukup Saya Saja

Baca juga: Liluk Sebut Pemain Asing PSIS Semarang Masih Solid, Belum Satupun Menyatakan Mundur

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, 240 Liter Cairan Disinfektan Disemprotkan di Jalanan Kota Semarang

Ananda mengatakan, ide membuat aplikasi itu datang setelah melihat kondisi temannya yang mengalami gangguan mental hingga sulit berkomunikasi.

"Jadi pada awalnya itu, Plong terinspirasi pada temannya founder kami ada yang mengidap gangguan mental."

"Kami memunculkan solusi dengan adanya aplikasi Plong."

"Ini adalah aplikasi kesehatan mental berbasis Android dan Ios," ujar Ananda seperti dilansir dari Kompas.com, Sabtu (12/12/2020).

Pandemi Covid-19 sempat membuat rencana pembuatan aplikasi itu terhambat.

Tak adanya kegiatan belajar tatap muka membuat Ananda dan Farhan sulit bertemu untuk bertukar pikiran.

"Karena kami membuatnya di tegah tengah pandemi, sulit untuk komunikasi, sulit untuk menyatukan pemikiran."

Halaman
1234
Editor: deni setiawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved