Breaking News:

Berita Ekonomi Bisnis

Ini Sarung Songket Turkey Buatan Warga Tegal, Laris Manis di Delapan Negara Benua Afrika

Pemilik PT Asaputex Jaya Kota Tegal, Jamaludin Al Katiri mengatakan, sarung tenun dari Kota Tegal mampu bersaing di pasar internasional. 

TRIBUN BANYUMAS/FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD
Pemilik PT Asaputex Jaya Kota Tegal Jamaludin Al Katiri, menunjukkan Sarung Songket Turkey yang sedang laris manis di pasar mancanegara, belum lama ini. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Produksi sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kota Tegal, laris manis di delapan negeri benua Afrika

Produksi tetap berjalan lancar meski berada di masa pandemi virus corona atau Covid-19. 

Pemilik PT Asaputex Jaya Kota Tegal, Jamaludin Al Katiri mengatakan, sarung tenun dari Kota Tegal mampu bersaing di pasar internasional. 

Baca juga: Tak Perlu Repot Mengurus, Pengantin di Kota Tegal Bakal Langsung Terima KK dan KTP Baru seusai Akad

Baca juga: Mantan Kapolsek Tegal Selatan Beberkan Fakta di Pengadilan, Sidang Lanjutan Kasus Konser Dangdut

Baca juga: Kisah Sukses Yudya, Pensiunan Karyawan Pertambangan, Laris Manis Berbisnis Ikan Cupang di Tegal

Baca juga: Pengelolaan Terminal Kota Tegal Diambil Alih Kemenhub, Tahun Depan Direhab Secara Menyeluruh

Ia mencontohkan, satu di antaranya adalah Sarung Songket Turkey

Produk tersebut laris manis di delapan negara benua Afrika mengalahkan sarung sutra buatan India dan Thailand. 

Jamal mengatakan, kondisi pandemi tidak menjadi penghalang produksi sarung tenun

Ia justru bersyukur tidak ada pengurangan karyawan di masa pandemi Covid-19, sejak Maret sampai Agustus 2020. 

"Tidak ada pengurangan karyawan satu pun dan jumlahnya masih berkisar 6.000 orang," kata Jamal kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (2/12/2020). 

Jamal mengatakan, Sarung Songket Turkey menjadi produksi para pengrajin ATBM di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. 

Produk tersebut menjadi inovasi baru di masa pandemi Covid-19. 

Dia mengatakan, ada lima motif Sarung Songket Turkey yang laku di pasaran. 

Sarung tersebut diterima di delapan negara benua Afrika, dua negara di Timur Tengah, dan dua negara di Asia. 

"Ini merupakan produk dan motif inovasi terbaik."

"Alhamdulillah berhasil."

"Harganya cukup murah, eceran paling tinggi Rp 200 ribu," ungkapnya. (Fajar Bahruddin Achmad)

Baca juga: Akses Dusun Gletuk dan Pringapus Temanggung Tertutup Longsoran, Dapur Milik Suraman Juga Lenyap

Baca juga: Pemkab Siapkan Rp 10 Miliar, Tangani Kasus Covid-19 di Temanggung Tahun Depan

Baca juga: Acara Hajatan Kembali Dibatasi, Maksimal Diikuti 50 Orang di Temanggung

Baca juga: Simulasi Pembelajaran Tatap Muka Dihentikan, Temanggung Berstatus Zona Merah Covid-19

Penulis: Fajar Bahruddin Achmad
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved