Berita Semarang

Penghuni Cukup Bayar Biaya Inap Rp 3000/Hari, Ini Sejarah Pondok Boro di Kota Semarang

Pondok Boro di Kota Semarang dikenal sebagai hunian murah meriah, terutama bagi para pekerja kasar asal luar daerah di Kota Semarang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Iwan Arifianto
Penghuni Pondok Boro di Kota Semarang tengah bersantai setelah bekerja, Sabtu (10/10/2020). 

Pengusaha ini lalu memerintahkan agar para pekerjanya tersebut tinggal di bekas kandang kuda itu.

"Kurang lebihnya seperti itu. Maka, tidak heran, mayoritas dihuni orang Kebumen yang turun-temurun tinggal di sini. Sekarang, pemilik Pondok Boro orang Jawa," katanya.

Pondok Boro saat ini memiliki 18 kamar dan tujuh ruangan besar yang disekat berupa dipan memanjang.

Total, ada 300 penghuni namun penghuni tetap 85 orang. Sisanya, penghuni tidak tetap yang sering pulang pergi.

Setiap penghuni dibekali kartu yang menjadi catatan seberapa lama tinggal di tempat tersebut, minimal satu bulan.

"Mayoritas penghuni adalah manula, jumlahnya sekitar 70 orang. Yang muda-muda, umur 40 tahun ke bawah, ada 10 orang," kata Yono, panggilan akrabnya.

Dijelaskannya, dominasi penghuni Pondok Boro dari berbagai daerah. Selain Kebumen, ada juga yang dari Sragen, Solo, dan daerah lain di Jawa Tengah.

Yono melanjutkan, puncak keramaian Pondok Boro berlangsung pada tahun 1990-an.

Siapkan Payung, Hujan Diperkirakan Guyur Purwokerto dan Purbalingga Malam Ini

Jadwal Acara TV Hari Ini, Minggu 11 Oktober 2020: Ada Film Ghost Rider di Trans TV

Video Jumlah Harta Kekayaan Paslon Bupati Wabup Purbalingga

Video Ocsi Anjing Berkemampuan Andal Tugas SAR dan Melacak Narkoba

Pamor Pondok Boro kini terus meredup, penghuni kian menyusut. Ini dapat dilihat dari lemari kotak di atas dipan pondok yang kosong.

"Dulu, satu kotak lemari untuk satu orang, bayangkan untuk tidur miring saja susah. Sekarang, satu orang bisa pakai dua kotak lemari atau lebih," ceritanya.

"Penghuni di sini mayoritas pedagang. Setelah penghuninya sepuh, biasanya, anaknya diminta meneruskan berdagang di sini tidak mau," bebernya.

Sementara, penghuni Pondok Boro Andi Setiawan mengaku, baru lima tahun tinggal di Pondok Boro.

Generasinya terhitung baru dibandingkan penghuni lain yang sudah puluhan tahun tinggal di tempat tersebut.

Sama halnya dengan penghuni lain, Andi merasa betah tinggal di tempat tersebut. Tentu, alasan utamanya lantaran murah.

"Saya paling suka di sini karena seluruh penghuni dianggap saudara jadi bikin kerasan," kata pemuda asal Purworejo ini. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved