Breaking News:

Berita Banjarnegara

Harga Sayur Anjlok, Petani di Banjarnegara Ini Sedekahkan Hasil Panen ke Panti Asuhan dan Ponpes

Sugiat mengirimkan sayuran hasil panen di ladangnya ke sejumlah panti asuhan di Banjarnegara.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/KHOIRUL MUZAKI
Sugiat dan petani lain di Desa Penanggungan, Wanayasa, Banjarnegara berangkat memetik wortel di ladang milik Sugiat untuk disedekahkan ke panti asuhan dan pondok pesantren, di tengah harga sayuran yang anjlok, Senin (28/9/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Beramal di saat kondisi lapang, setiap orang mudah melakukan. Lain hal, saat kondisi ekonomi sulit, beban hidup membelit, susah bagi orang untuk bermurah hati pada sesama.

Sugiat, petani asal Desa Penanggungan, Kecamatan Wanayasa, pun memahami paradoks tersebut.

Namun, dia memilih tetap beramal meski kondisi sulit dan pahit menghampiri seperti saat ini. Yakni, ketika, harga sayur hancur.

Saat ini, 16 ribu bibit kubis yang dia tanam sudah saatnya dipanen. Sayang, harga kubis di pasaran anjlok.

Kubis sebanyak itu hanya ditawar Rp 500 ribu oleh tengkulak. Sungguh, tawaran harga yang sangat rendah. Apalagi, tawaran harga itu belum bisa menutup ongkos beli bibit.

"Beli bibitnya Rp 600 ribu, saat panen ditawar Rp 500 ribu, ya tidak saya jual," kata Sugiat yang juga relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Banjarnegara, Senin (28/9/2020).

Wakil Wali Kota Tegaskan Tak ada PSBB Jilid 2 di Kota Tegal

Bukan Tes Swab, Pemkab Banyumas dan FKPP Sepakati Screening Kesehatan untuk Cegah Klaster Ponpes

Masih Antar Penumpang, Tukang Becak Positif Covid-19 di Kota Tegal Ini Akhirnya Mau Jalani Isolasi

Seusai Jalani Sanksi Menyapu Makam Pahlawan, 3 Warga Kota Semarang Dikarantina di Rumdin Wali Kota

Belum lagi, biaya produksi lain yang jumlahnya cukup besar, yang telah dia keluarkan selama ini. Selain untuk membeli bibit, ia harus keluar modal untuk membeli pupuk hingga ongkos tenaga. Belum lagi ongkos sewa lahan yang membuat modal membengkak.

Sugiat mengatakan, saat ini, harga jual kubis di tingkat petani hanya Rp 800 per kilogram. Itu pun masih kotor. Petani masih harus menanggung biaya petik dan angkut sekitar Rp 300 hingga Rp 350 per kilogram.

Alhasil, banyak petani memilih membiarkan tanamannya tua hingga membusuk di lahan karena jika dijual pun tak ada harganya.

"Sudah setengah tahun lebih, harganya anjlok. Terendah, kubis dibeli Rp 350 per kilogram, bersih," imbuh dia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved