Breaking News:

Berita Cilacap

Mengenang Oey Kim Tjin, Warga Cilacap Pembawa Dokumen Negara saat Ibukota Boyongan ke Yogyakarta

Dari bus EMTO di masa perjuangan, kemudian berganti GS EMTO, lalu lahir bus ESTU dengan trayek Majenang-Kebumen yang melegenda di Kabupaten Cilacap.

TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Yoseph Budhi Wiharja saat menceritakan perjuangan kakeknya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Rabu (19/8/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, Indonesia belum sepenuhnya lepas dari cengkeraman penjajah.

Setelah Jepang menyerah ke sekutu, Belanda kembali mengangkat senjata.

Mereka masih berhasrat untuk menguasai lagi Indonesia.

Jakarta yang telah disahkan sebagai ibukota jadi sasaran utama serangan kolonial.

Gerebek Rumah Produksi Jamu Ilegal di Gentansari Cilacap, Dua Orang Digiring ke Polda Jateng

Produktivitas Padi di Jateng Tertinggi se-Indonesia, Kabupaten Cilacap Masuk 10 Besar

Mengintip Warga Pesahangan Cilacap Bikin Tikar Daun Pandan, Berburu Bahan Baku Sampai Cianjur

Sebuah keputusan besar harus diambil untuk menyelamatkan republik dari teror penjajah.

Pusat pemerintahan akhirnya dipindah ke Yogyakarta.

Memindahkan ibukota nyatanya tak semudah membalik telapak tangan.

Presiden, Wakil Presiden, hingga kabinet dan keluarganya harus diboyong ke Yogyakarta di bawah ancaman Belanda.

Tidak kalah penting, dokumen rahasia milik negara harus ikut serta dipindahkan.

Saat itu, alat transportasi darat masih sangat jarang.

Halaman
1234
Penulis: khoirul muzaki
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved