Berita Banjarnegara

Uang Jajan Bocah Banjarnegara Rp2.000 Sehari, Dipotong buat Beli Kuota, Alasannya Bikin Terenyuh

Uang Jajan Subekti Bocah Banjarnegara Rp2.000 Sehari, Masih Dipotong buat Beli Kuota Internget guna Belajar Daring, Alasannya Bikin Terenyuh

Penulis: khoirul muzaki | Editor: yayan isro roziki
Tribunbanyumas.com/Khoirul Muzaki
Anak-anak Dusun 2 Desa Pasuruhan, Karangkobar, Banjarnegara belajar daring di makam. Mereka harus rela beajar daring di makam agar bisa mendapat sinyal internet yang cukup bagus. Perjuangan mereka tak hanya itu, anak-anak itu pun harus rela uang jajan harian mereka dipotong guna membeli kuota internet. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Belajar dalam jaringan (daring) menjadi sesuatu yang 'istimewa' dan butuh perjuangan khusus, agar anak-anak di daerah pinggiran bisa mengikutinya.

Subekti, seorang siswa SMP di Karangkobar, Banjarnegara harus rela yang jajannya yang cuma Rp4.000 sehari dipotong Rp2 ribu untuk beli beli kuota.

Walhasil, uang jajan Subekti kini hanya Rp2.000 per hari, itu pun ia masih sisikan Rp1.000 untuk ditabung, alasannya pun bikin terenyuh.

Kisah sejumlah anak di Dusun 2 Desa Pasuruhan Kecamatan Karangkobar Banjarnegara yang harus berburu sinyal di makam untuk pembelajaran daring cukup menyita perhatian.

Kisah Ibu Pencari Rumput di Banjarnegara, Jual Beras demi Beli Kuota: Gak Ada Kuota Gak Belajar

Tes Covid-19 di Brebes Terendah di Jateng, Begini Respon Gubernur Ganjar: Apa Persoalannya. . .

Begini Syarat Penerapan New Normal Menurut WHO dan Bappenas, Daerah Mana Sudah Siap?

Siasat SMP di Brebes Gelar Pembelajaran Tatap Muka, Minta Siswa ke Sekolah Tak Pakai Seragam

Setiap jam pelajaran, sejumlah siswa, terutama pelajar SMP berkumpul di makam untuk belajar.

Lahan kuburan itu memang lokasinya lebih tinggi dari komplek pemukiman di bawahnya.

Wajar di tempat itu warga lebih mudah mendapatkan sinyal.

Siswa biasa mendapat tugas dari guru melalui pesan Whatsapp. Mereka telah dibekali buku panduan saat awal masuk sekolah.

Anak-anak biasa diminta mempelajari materi atau menjawab soal-soal di halaman tertentu di buku pegangan.

"Jawabannya ditulis dibuku tulis, lalu difoto kemudian dikirim lewat WA. Nanti dinilai sama guru," kata Halimah, orangtua siswa, Senin (10/8/2020).

Karena untuk menerima dan mengirimkan tugas harus dalam jaringan (daring), para siswa harus pergi ke dataran lebih tinggi, biasanya di tempat pemakaman umum atau komplek SD di bawahnya yang sinyalnya lebih kuat.

Orangtua dan siswa harus menanggung konsekuensi atas pemberlakuan model pembelajaran jarak jauh ini.

Mereka yang belum memiliki gawai harus membeli perangkat itu untuk menunjang pembelajaran anaknya.

Masalahnya, perangkat itu harus dioperasikan dengan paket data agar bisa mengakses internet.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved