Breaking News:

Berita Tegal

Pengamat: Pejabat Pemkot Tegal Sibuk Pencitraan, Masyarakat Jadi Korban Covid-19

Pengamat Kebijakan Publik, Hamidah Abdurrachman mengkritik kebijakan pemerintah Kota Tegal terkait pencegahan penyebaran virus corona.

Editor: Rival Almanaf
TRIBUN BANYUMAS/FAJAR BAHRUDDIN ACHMAD
Wakil Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Tegal Muhamad Jumadi memaparkan hasil swab test yang diikuti ratusan orang di Kota Tegal, Jumat (7/8/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Pengamat Kebijakan Publik, Hamidah Abdurrachman mengkritik kebijakan pemerintah Kota Tegal terkait pencegahan penyebaran virus corona.

Seperti diketahui kini ditemukan 28 kasus baru virus corona di Kota Tegal.

Padahal sebelumnya kota tersebut sempat mendeklarasikan sebagai zona hijau virus corona.

Nasib Ronaldo dan Juventus yang Tidak Sejalan di Liga Champions

Cerita Nakes Positif Covid-19 Kota Tegal Jalani Swab Test Ulang untuk Dapatkan Second Opinion

Penadah Motor Curian Warga Banyumas Ditangkap Setelah Menjual Motor Curian Di Facebook

Berikut Jadwal Samsat Online Keliling atau Samsat Siaga di Kota Tegal

Hamidah mengatakan, kepala daerah yang justru sibuk pencitraan dan terkesan enggan melakukan test massal disebut menjadi salah satu pemicu melonjaknya kasus Covid-19 di Kota Tegal.

"Sibuk pencitraan, masyarakat jadi korban. Dari awal sudah diingatkan agar dilakukan test massal terhadap masyarakat, bisa bertahap tapi pasti. Namun malah euforia berlebihan zona hijau," kata Hamidah, Jumat (7/8/2020).

Menurut Direktur Program Pascasarjana Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, adanya 28 kasus baru, disebut karena Pemkot sebelumnya juga terlalu euforia menyandang status zona hijau sehingga menjadi abai dalam pencegahan.

"Semua kegiatan massal diperbolehkan tanpa standar tertentu. Bahkan dalam beberapa kegiatan, beliau sendiri (Wali Kota) terlihat tidak memakai masker," kata Hamidah.

Menurutnya, masyarakat menjadi turut abai dan tidak menjalankan protokol Covid-19 dengan baik.

Mereka beranggapan, sudah benar-benar berada dalam wilayah yang aman, seperti yang dicerminkan perilaku pemimpinnya.

"Masyarakat sudah terprovokasi kebijakan yang memperbolehkan kerumunan orang. Seperti dengan membuka pusat perbelanjaan, restoran, dan acara-acara yang melibatkan banyak orang namun mengabaikan prosedur kesehatan," kata dia.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved