Bisnis dan Keuangan

Stafsus Menteri BUMN Sebut Kredit Perbankan akan Puluh Tahun 2021

Pandemi Covid-19 memukul perekonomian Indonesia, termasuk menahan laju bisnis perbankan nasional.

Editor: Rival Almanaf
wow.tribunnews.com
Uang kertas bisa tularkan virus corona? 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Pandemi Covid-19 memukul perekonomian Indonesia, termasuk menahan laju bisnis perbankan nasional.

Penyaluran kredit terhambat akibat tersendatnya perekonomian karena penerapan kebijakan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Makro Ekonomi Muhammad Ikhsan mengatakan, lambatnya laju kredit bukan karena persoalan likuiditas perbankan.

Melainkan credit crunch, yakni keengganan bank dan penghematan pinjaman yang dilakukan oleh bank di tengah pandemi.

Jadwal Acara TV Hari Ini Kamis 23 Juli 2020 di TransTV, Trans7, GTV, SCTV, Indosiar, dan ANTV

Harus Jadi Warga Bandung Dulu, Syarat Menjadi Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari China

Setelah Bangkrut Jualan Mie Ayam, Pria di Cianjur Ini Jual Istri Sendiri, Sedia Layanan Threesome

Suami Dipenjara karena Narkoba, Istri Jual Anak yang Dilahirkan, Polisi: Ternyata Sudah 2 Kali

"Kondisi bank masih aman, permasalahan justru bukan di likuiditasnya, melainkan credit crunch yang terjadi," ujarnya dalam webinar Maybank Indonesia: Economic Outlook 2020, Rabu (22/7/2020).

Ikhsan memperkirakan, pemulihan kredit bank baru akan berlangsung pada akhir 2020 atau awal 2021.

Lantaran, fokus pemerintah saat ini adalah pemulihan kesehatan dan perlindungan sosial.

"Kita lihat proses pemulihan yang pertama ialah kesehatan, kedua perlindungan sosial, lalu pada akhir 2020 atau awal 2021 kita melihat dampaknya pada bisnis kredit perbankan dan ini perlu restrukturisasi," jelasnya.

Ia menambahkan, beberapa segmen penyaluran kredit yang terdampak pandemi diantaranya sektor korporasi, UKM, mikro, serta ritel.

Utamanya pada sektor-sektor yang kegiatan ekonominya berjalan dengan mengandalkan pertemuan fisik.

"Sedangkan sektor yang banyak mengandalkan virtual lebih tidak terdampak, dan proses pemulihannya bisa lebih cepat," katanya.

Kendati demikian, pemerintah saat ini tengah memberikan stimulus pada dunia usaha dan sektor jasa keuangan.

Fakta di Balik Video Taraktakdung yang Sempat Viral di TikTok

Kementerian Sosial Beri Apresiasi Kepada Fotografer di Lingkungannya Dalam Bentuk Pameran Foto

Drama Delapan Gol Liverpool vs Chelsea Warnai Penyerahan Trofi Liga Inggris

Tanggapan Ganjar Pranowo Ketika Elektabilitasnya Lebih Unggul dari Prabowo dan Anies

Melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Stimulus untuk UMKM dianggarkan sebesar Rp 123,46 triliun, untuk pembiayaan korporasi sebesar Rp 53,57 trilun, serta insentif usaha sebesar Rp 120,61 triliun.

Untuk diketahui, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan pada Mei 2020 tumbuh melambat sebesar 3,04 persen secara tahunan (yoy), dibandingkan dengan April yang tumbuh 5,73 persen (yoy).

Sementara likuiditas perbankan nasional masih sangat kuat dengan rasio kredit terdahap simpanan (loan deposit ratio/LDR) pada Mei 2020 berada di level 90,42 persen.

Sedangkan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih tumbuh 8,87 persen (yoy) di Mei 2020, meningkat bila dibandingkan pada April 2020 tumbuh 8,08 persen (yoy). (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kredit Perbankan Diperkirakan Baru Pulih Akhir 2020", 

Sumber: Info Komputer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved