Berita Kesehatan

Alat Swab Patah dan Dibiarkan Tertinggal di Hidung, Bocah Ini Meninggal di Rumah Sakit

Alat Swab Patah dan Dibiarkan Tertinggal di Hidung, Bocah Ini Meninggal di Rumah Sakit

Tribunbanyumas.com/ Hermawan Handaka
Ilustrasi pengambilan swab - Seorang bocah laki-laki di Arab Saudi meninggal, gara-gara alat swab patah dan dibiarkan tertinggal dalam hidung korban. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, RIYADH - Seorang anak laki-laki segera dibawa ke rumah sakit setelah mengalami gejala klinis mirip orang terinfeksi virus corona.

Sesampainya di rumah sakit, anak tersebut mendapatkan tindakan medis berupa pengambilan sampel swab.

Naasnya, alat swab tersebut patah dan kemudian dibiarkan tertinggal di dalam hidung si bocah, hingga akhirnya anak tersebut meninggal dunia.

Dikira Hilang Diculik Makhluk Halus, Pemuda Ini Ditemukan Tewas Dililit Ular Piton di Hutan

66 Jurnalis di Surabaya Positif Covid-19 Dua Meninggal, Ini 3 Hal yang Mendesak Dievaluasi

Rantis Maung 4x4 Pesanan Prabowo Ternyata Pakai Mesin dan Sasis Hilux, Bagaimana Tanggapan Toyota?

Sengaja Tabrak Polisi hingga Meninggal di Subang, Pengemudi Mobil Ugal-ugalan Terancam Hukuman Mati

Peristiwa tersebut terjadi di Rumah Sakit Umum Shaqra. Melansir Sabaq News, anak laki-laki itu dibawa ke rumah sakit karena menderita demam tinggi.

Dituturkan, anak tersebut kemudian mendapat tindakan medis untuk memeriksa apakah anak itu menderita Covid-19.

Namun, ketika diperiksa menggunakan alat swab yang dimasukkan ke hidungnya, alat itu patah di dalam hidung sehingga membuat dokter menggunakan anestesi umum untuk menunjukkan hasil swab dari tenggorokkannya.

Anak itu dibiarkan kemudian tanpa tindak lanjut, yang menyebabkan dia kehilangan kesadaran karena penyumbatan saluran pernapasan.

Melansir Gulf News, dia meninggal dunia 24 jam setelah memasuki rumah sakit tersebut.

Ayah anak itu, Abdullah Al Joufan, menceritakan detil kecelakaan tragis itu.

Dia membenarkan bahwa dia menolak menjalani anestesi umum untuk anaknya.

Tetapi dokter bersikeras dengan menunjukkan bahwa setelah tindakan, anak itu akan diperiksa oleh dokter spesialis anak, padahal staf rumah sakit mengatakan dokter spesialis anak sedang cuti.

Menurut Al Joufan, orang-orang bingung pada hari berikutnya karena anaknya tiba-tiba kehilangan kesadaran akibat saluran pernapasan yang terhalang.

Di tengah upaya untuk terus membuat anak itu sadar kembali, Al Joufan menyadari kalau kesehatan anaknya memburuk dan meminta pihak rumah sakit memindahkan putranya ke rumah sakit khusus di Riyadh.

Meski pun disetujui, ambulans datang terlambat.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved