Berita Video
Video Desa Kebutuhduwur Sentra Konveksi Banjarnegara
Dari beberapa mesin jahit dan sejumlah pekerja, kini Poyo telah mempekerjakan sekira 70 karyawan dengan dari 60 mesin produksi yang dimilikinya.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Abduh Imanulhaq
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Berikut ini video Desa Kebutuhduwur sentra konveksi Banjarnegara.
Industri garmen selama ini identik hanya berkembang di perkotaan.
Terlebih didukung keberadaan pasar besar semisal Pasar Tanah Abang di Jakarta yang selama ini seakan menjadi rujukan pedagang dari berbagai daerah untuk kulakan.
Banyak warga daerah, terutama berpendidikan rendah merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh konveksi.
Selain buruh bangunan bagi sebagian warga lain yang tak punya keahlian khusus.
Tetapi dalam perkembangannya, industri garmen ternyata melebar dan menyebar ke daerah.
Sebagian pengusaha memilih memindah usahanya ke daerah dengan bermacam pertimbangan.
Ada pula eks buruh konveksi di kota yang memilih merintis usaha di daerah asal.
Tentunya dengan bekal keahlian dan jaringan pemasaran yang dimiliki.
Seperti halnya Nikmatul Supoyo, warga Desa Kebutuhduwur, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara.
Poyo --sapaan akrabnya-- dahulu bukanlah siapa-siapa.
Ia terpaksa merantau ke Jakarta sejak usia 13 tahun.
Ia putus sekolah karena faktor ekonomi.
Hingga ia memutuskan bekerja di konveksi di usia yang masih dini.
"Karena ekonomi, saya umur 13 tahun merantau ke Jakarta," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (10/6/2020).
Cukup lama menjalani pekerjaan berupah murah itu, Poyo 'naik pangkat' menjadi buruh jahit di tempat kerjanya.
Pekerjaan yang dia tekuni selama 20 tahunan itu sampai mengakar baginya.
Hingga kejenuhan menyambanginya.
Ia ingin kembali ke daerah asal agar bisa berkumpul dengan keluarga.
Konsekuensinya, ia harus melepas pekerjaannya.
Poyo tentu tak ingin jadi pengangguran sekembali di desa.
Karenanya, ia harus berpikir keras agar bisa tetap menafkahi keluarga.
Hingga muncul ide untuk merintis usaha konveksi di desa.
Kenapa tidak, soal keahlian tak perlu ditanyakan.
Ia cukup berpengalaman memproduksi pakaian jadi.
Beruntung ada pengusaha yang percaya dan mau bermitra dengannya.
Tinggal ia menyiapkan mesin produksi dan tenaga untuk menjahit bahan.
Poyo pun rela meminjam uang di bank puluhan juta Rupiah untuk membeli beberapa mesin jahit.
"Pertama mesinnya 6 unit, terus nambah. Saya pinjam bank," katanya.
Siapa sangka, usahanya terus berkembang.
Ia mendapat banyak orderan yang memaksanya meningkatkan kapasitas produksi.
Poyo pun terus menambah mesin jahit hingga memperbanyak tenaga kerja.
Dari beberapa mesin jahit dan sejumlah pekerja, kini ia telah mempekerjakan sekira 70 karyawan dengan dari 60 mesin produksi yang dimilikinya.
Ada yang bertugas menjahit bahan, mengobras, hingga buruh potong benang dan pengemasan (finishing).
Saat ini usahanya fokus memproduksi baju tidur (piyama) sesuai pesanan.
Setiap minggu, ia bisa mengirim ribuan pieces (pcs) pakaian jadi ke pengusaha di Jakarta yang bermitra dengannya.
"Dahulu saya orang sulit. Sekarang Alhamdulillah, rumah mobil ada," katanya.
Poyo bukan hanya berhasil menyejahterakan keluarga berkat usahanya.
Ia pun berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar tempat tinggalnya.
Penghasilan mereka bervariasi dengan sistem borongan.
Setiap minggu, sebagian karyawan di tempatnya bahkan bisa meraup Rp 800 ribu dari hasil pekerjaannya.
Dengan demikian, setiap bulan, penghasilan mereka sudah juah melebihi UMK Kabupaten Banjarnegara.
Usaha Poyo hanyalah satu di antara ratusan usaha konveksi yang menjamur di Desa Kebutuhduwur, Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara.
Mereka kebanyakan hanya menyediakan jasa memproduksi pakaian jadi yang bermitra dengan pengusaha di Jakarta.
Dari usaha itu, ribuan tenaga kerja dari Desa Kebutuhduwur dan sekitarnya berhasil terserap.
Warga bekerja di konveksi untuk memeroleh penghasilan pokok, atau alternatif di luar usaha pertanian.
Keberadaan ratusan konveksi itu pun menggeiatkan perekonomian desa.
Poyo mengatakan, sulit menemukan warga yang menganggur di desanya.
Rata-rata warga yang tak bekerja di sektor lain, terserap di konveksi.
"Yang merantau juga jarang."
"Karena penghasilannya sama saja di Jakarta dengan di sini," katanya.
Suhud satu di antara karyawan Poyo bersyukur, di usianya yang lanjut, ia masih diterima bekerja di bagian finishing sebagai buruh potong benang.
Pekerjaan ini menyelamatkan perekonomian keluarganya.
Terlebih, usaha pertanian salak yang ia tekuni selama ini sedang lesu karena harga hasil panen anjlok.
Selain pemuda maupun dewasa, ada sejumlah lansia rupanya yang juga terserap bekerja di konveksi.
"Saya hanya berdua di rumah, jadi cukup dari penghasilan ini," katanya. (Khoirul Muzakki)