Breaking News:

Berita Ekonomi Bisnis

Bakal Sulit Cari Warga Nganggur di Sini, Mengintip Sentra Konveksi Desa Kebutuhduwur Banjarnegara

Dari beberapa mesin jahit dan sejumlah pekerja, kini Poyo telah mempekerjakan sekira 70 karyawan dengan dari 60 mesin produksi yang dimilikinya.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Industri garmen selama ini identik hanya berkembang di perkotaan.

Terlebih didukung keberadaan pasar besar semisal Pasar Tanah Abang di Jakarta yang selama ini seakan menjadi rujukan pedagang dari berbagai daerah untuk kulakan.

Banyak warga daerah, terutama berpendidikan rendah merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh konveksi.

Begini Cara Urus Surat Keterangan Bebas Covid-19, Berikut Biaya Mandiri di Rumah Sakit

Kisah Sukses Supriyanti Bikin Pot Emoticon di Banjarnegara: Saya Tak Mau Frustasi Akibat Covid-19

Dana Pelunasan Berangkat Haji Bisa Ditarik, Kemenag Banjarnegara: Semisal untuk Bayar Utang Dahulu

Bulan Ini Mulai Musim Kemarau, 15 Kecamatan Rawan Kekeringan di Purbalingga

Selain buruh bangunan bagi sebagian warga lain yang tak punya keahlian khusus.

Tetapi dalam perkembangannya, industri garmen ternyata melebar dan menyebar ke daerah.

Sebagian pengusaha memilih memindah usahanya ke daerah dengan bermacam pertimbangan.

Ada pula eks buruh konveksi di kota yang memilih merintis usaha di daerah asal.

Tentunya dengan bekal keahlian dan jaringan pemasaran yang dimiliki.

Seperti halnya Nikmatul Supoyo, warga Desa Kebutuhduwur, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara.

Poyo --sapaan akrabnya-- dahulu bukanlah siapa-siapa.

Halaman
1234
Penulis: khoirul muzaki
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved