Berita Internasional

Gadis 14 Tahun Dipenggal Oleh Ayahnya Karena Kabur Bersama Lelaki Berusia 35 Tahun

Seorang gadis 14 tahun dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri setelah kabur bersama pria pujaan hatinya yang berusia 35 tahun.

Editor: Rival Almanaf
Kompas.com
Romina Ashrafi, remaja berusia 13 tahun di Iran yang dibunuh ayahnya secara brutal setelah jatuh cinta dan kabur bersama pria 35 tahun.(Twitter via Daily Mail) 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Seorang gadis 14 tahun dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri setelah kabur bersama pria pujaan hatinya yang berusia 35 tahun.

Peristiwa tersebut terjadi di Iran, polisi setempat saat ini sudah menangkap sang ayah.

Pembunuhan gadis 14 tahun itu langsung memicu kemarahan besar secara luas di kalangan publik Iran.

Romina Ashrafi melarikan diri dari rumah di provinsi Gilan dengan pacarnya, karena ayahnya keberatan dengan pernikahan mereka.

Darurat Bencana Virus Corona di Banyumas Diperpanjang Hingga 30 Juni, Begini Alasan Bupati

Belum Sempat Swab Lalu Meninggal, Warga Takut Kuburkan Jasad Warga Majalengka

Tidak Dilayani Karena Tidak Kenakan Masker, Wanita Ini Lepas Celana Dalamnya di Depan Umum

Kemudikan Toyota Fortuner dan Tabrak Mobil Dinas Polisi Hingga Terbalik, 2 Orang Diperiksa Intensif

Sepasang kekasih itu ditemukan oleh polisi.

Romina lalu dipulangkan ke rumah, meski dia mengatakan nyawanya terancam jika pulang.

Kemudian Kamis malam (21/5/2020) dia diduga dibunuh oleh ayahnya sendiri saat sedang tidur di kamar.

Kantor berita Gilkhabar.ir melaporkan, Romina "dipenggal" dengan sabit lalu ayahnya berjalan ke luar rumah bersama sabit itu dan mengakui perbuatannya.

Lalu pada Rabu (27/5/2020) sejumlah surat kabar nasional Iran menempatkan kasus pembunuhan Romina di halaman depan.

"Rumah ayah tidak aman," tulis judul sebuah headline di Ebtkar, media pro-reformasi.

Media itu menyoroti kegagalan undang-undang yang ada untuk melindungi perempuan dan anak perempuan.

Sementara itu tagar #Romina_Ashrafi dengan aksara Persia telah dipakai lebih dari 50.000 kali di Twitter.

Sebagian besar mengecam pembunuhan dan sifat patriarki masyarakat Iran secara umum.

Shahindokht Molaverdi, mantan wakil presiden untuk urusan wanita dan keluarga, yang sekarang menjadi pejabat Perlindungan Hak-hak Wanita Iran menulis, "Romina bukanlah yang pertama dan juga tidak akan menjadi korban terakhir pembunuhan demi kehormatan ( honor killings)."

Dia menyebutkan, pembunuhan semacam itu akan berlanjut, "selama hukum dan budaya dominan di masyarakat lokal dan global tidak cukup menghalangi."

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved