Wabah Virus Corona

Cerita Seorang Dokter yang Rela Tidak Pulang ke Rumah Takut Menjadi Pembawa Virus Corona

Seorang petugas medis juga manusia biasa, dengan risiko tertular corona paling tinggi, mereka juga takut akan terinfeksi.

Editor: Rival Almanaf
Istimewa
Pasien Sembuh dari Virus Corona Lebih Banyak, Menkes Terawan: Corona Bisa Sembuh Sendiri 

M pun memberikan arahan kepada petugas tersebut dari balik kaca, sesekali masuk ke dalam.

“APD kita nggak boleh yang biasa saja, harus yang sama pakai coverall."

"Lalu petugas enggak boleh keluar masuk, jadi dia harus tetap di ruangan tersebut."

"Keluar masuk lagi harus memakai ADP yang baru,” ucap dia.

Lambat laun persediaan APD pun menipis.

Walaupun pada akhirnya pemerintah memberikan bantuan APD kepada rumah sakitnya.

"Memang saya dengar ada bantuan APD dari pemerintah dalam jumlah banyak."

"Tapi kita kan ada banyak RSUD se-DKI, bayangkan saja rumah sakit rujukan sebegitu banyaknya enggak mungkin lah kami berharap banyak."

"Paling puluhan sampai ke kita,” kata dia.

Hal itulah yang membuat beberapa petugas medis juga mulai berjatuhan karena sakit.

Di tempat M sendiri ada dua petugas medis yang mengalami gejala Covid-19.

Akhirnya mereka dipulangkan untuk mengisolasi diri di rumah selama 14 hari.

“Tenaga medis akhirnya berkurang. Ya berkurang sekali.” Jelas dia.

Setelah beberapa hari menangani pasien ODP, PDP dan sebagian positive Covid-19, M menyadari betul pentingnya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk tetap tinggal dirumah.

Semakin banyak yang tetap tinggal dirumah, maka emakin mudah mengkontrol peredaran virus corona.

Namun, nampaknya tidak semua masyarakat mengerti akan hal ini.

Kesal dan jengkel begitu dirasakan M lantaran kerap melihat warga yang selalu berkeliaran di luar rumah.

“Begini ya. Bagi saya, semua orang itu adalah ODP, masih dalam pemantauan."

"Oke kalau kamu tidak terjangkit, tapi bagaimana kalau kamu ini carrier?"

"Kamu mungkin tidak terancam, tapi keluarga kamu terancam, orang lain terancam,” kata dia.

M juga pernah merasa geram dengan salah satu pasiennya yang positif Covid-19.

Pasien ini rupanya enggan menuruti anjuran dokter untuk diisolasi di rumah sakit karena merasa tidak mengalami gejala apa-apa.

Bahkan, setelah diperiksa bukannya mengisolasikan diri di rumah, dia lebih memilih berjalan-jalan keluar rumah.

“Kan kita juga minta puskesmas sama RT dan RW pantau dia. Pasien ini malah keluar-luar rumah,” tutur M.

Walaupun pada akhirnya pasien tersebut mau diisolasi di rumah sakit, tetap saja perbuatanya sempat membuat M jengkel.

Purwokerto Hujan Lebat Nanti Malam, Simak Prakiraan Cuaca Banyumas Kamis 26 Maret 2020 dari BMKG

Viral Polisi Bintara Terlambat Dipukul Perwira Hingga Dirawat di Rumah Sakit, Simak Penjelasan Polri

Cek Fakta Kabar Zona Merah Corona di Semarang, Begini Kata Dinkes

PSIS Semarang Rugi Saat Liga 1 Dihentikan Akibat Corona, Yoyok Pastikan Gaji Pemain Sesuai Kontrak

“Jadi apa dong daya kami jika masyarakatnya saja seperti itu? Abai akan imbauan?” jelas dia.

Belakangan dia baru mengetahui alasan pasien ini tidak mau mengisolasikan diri lantaran mendapat pandangan miring dari lingkungannya.

Statusnya sebagai positif Covid-19 rupanya cukup membuatnya tersudut di lingkungan sosial.

“Makanya seharusnya orang seperti itu harus tetap di-support. Jangan juga dikucilkan,” terang dia.

Dia berharap masyarakat bisa mengerti tanggung jawab yang diemban para tenaga medis saat ini.

Tidak begitu perlu memberikan bantuan yang dan sebagainya.

Bagi M dan teman-teman medis lainnya, masyarakat tetap berada di rumah saja sudah cukup membantu kerja mereka. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Keluh Kesah Tenaga Medis di Balik Perjuangan Melawan Covid-19", 

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved