Breaking News:

Berita Purbalingga

Kepsek SD di Purbalingga Beberkan Detik-detik Siswanya Tewas Tenggelam di Kolam Renang:Kami Menyesal

Kepsek SD di Purbalingga Beberkan Detik-detik Siswanya Tewas Tenggelam di Kolam Renang:Kami Menyesal

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: muslimah
Tribun Banyumas/Rahdyan Trijoko Pamungkas
Aktivitas Sekolah Dasar Negeri (03) Makam Kecamatan Rembang. 

"Gurunya jadi kepalanya buntut tidak kelihatan kemungkinan seperti itu

Ia menyayangkan prosedur yang dilakukan sekolah. Dia berharap ada perbaikan prosedur.

"Saya berharap tidak ada kejadian yang sama. Kejadian yang menimpa anak saya bisa menjadi evaluasi, " turur dia.

Guru Lalai

Kasie Kurikulum, Budiman mengatakan secara kurikulum pelajaran renang untuk kelas 3 ke bawah hanya bersifat pengenalan.

Sementara untuk kelas 3 materi yang diajarkan memahami gerak dasar yaitu meluncur.

"Kalau kelas empat mempraktekan gerak dasar satu gaya renang," tuturnya.

Menurut dia, guru harus paham tingkat bahaya apapun segala olah raga yang diajarkan. Guru harus bisa mengidentifikasi masing-masing muridnya.

 Ya kalau guru berani mengajak berenang ya harus tahu siapa saja yang tidak berenang. Guru harus memperhatikan dan tidak boleh lengah ," kata dia.

Ia mengatakan pada prinsipnya kegiatan selama jam pelajaran merupakan tangung jawab guru. Kejadian yang dialami siswa SD 03 Makam dianggapnya sebagai kelalaian.

"Meskipun kolam renang ada penjangga tapi masih tanggung jawab guru, "tukasnya.

Polisi meninjau kondisi kolam renang yang memakan korban anak SD tenggelam
Polisi meninjau kondisi kolam renang yang memakan korban anak SD tenggelam (Istimewa)

Diberitakan sebelumnya, seorang siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Rembang, Purbalingga ditemukan tewas tenggelam saat mengikuti pelajaran berenang di sebuah kolam di Desa Rajawana RT 1 RW 5, Kecamatan Karangmoncol.

Diketahui siswa tenggelam tersebut berinisial MA (8) warga kecamatan Rembang.

Kepala Desa Rajawana Suwanto Hadinata menuturkan kronologi tenggelamnya siswa pada Sabtu, (22/2) kemarin.

Saat itu guru korban mengajak siswanya berenang.

"Renang itu masuk dalam kurikulum pelajaran olahraga. Guru itu mengajak siswanya sekitar 20 orang yang ikut renang," ujarnya, Minggu (23/2/2020).

Saat akan pulang, kata dia, pengelola kolam renang meminta guru tersebut untuk menghitung kembali siswanya.

Namun guru menyatakan siswanya telah lengkap.

"Pengelola itu bilang kok ada bungkusan kresek isi baju. Setelah dicek ternyata siswa dari sekolah lain masuk kolam renang dan menyentuh kaki korban.

Lalu pengelola masuk kolam dan ternyata betul ada anak yang tenggelam," jelasnya.

Dikatakannya, kolam renang tempat korban tenggelam masih dalam proses pembangunan. Korban tenggelam di kolam renang sedalam 1,6 meter.

"Aslinya dia (korban) renang di kolam standar untuk anak. Namun tanpa sepengetahuan gurunya korban menyeberang ke kolam renang yang dalam," tuturnya.

Menurut dia, gurunya tidak memantau korban saat berpindah ke kolam renang.

Guru itu menganggap biasa siswanya berenang di tempat yang dalam.

"Tahu-tahu korban tidak muncul kembali, " tutur dia.

Suwanto mengatakan sebelum berenang sebenarnya korban dalam kondisi sakit.

Namun orang tuanya meminta korban untuk berangkat sekolah.

"Tidak tahunya ada kegiatan renang ya terjadi seperti itu, "tutur dia.

Menurutnya, korban saat ditemukan sempat diberikan pertolongan setelah diangkat dari kolam renang.

"Hanya beberpa menit korban tenggalam. Korban diberi nafas buatan dan sempat dibawa di rumah sakit. Masih ada detak jantung. Korban meninggal di rumah sakit," tuturnya.

6 Bocah Ini Jadi Yatim Piatu dalam Sehari, Wajah Polos Mereka Kebingungan Melihat Pelayat Menangis

Keluarga Sempat Marah

Dia mengatakan saat kejadian orang tua korban sempat diberi kabar oleh orangtua siswa yang mengantar renang.

Orangtua korban empat marah-marah oleh guru tersebut saat berada dirumah sakit.

"Orang tua korban sempat syok dan marah-marah," tutur dia.

Ia menuturkan setelah kejadian tim inafis Polres Purbalingga melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Pihaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut.

Kasatreskrim Polres Purbalingga,AKP Willy Budiyanto menuturkan hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan saksi.

Pihaknya belum menetapkan tersangka atas kejadian tersebut.

"Menetapkan tersangka harus ada mekanismenya," imbuhnya.

AKP Wili menuturkan guru tersebut seharusnya bertanggung memantau anak didiknya.

Namun banyaknya siswa yang ikut renang menyebabkan guru itu kesulitan untuk memantau siswanya.

"Saat kejadian penjaga kolam renang sudah mengingatkan gurunya untuk mengecek siswa.

Namun guru itu menyatakan sudah komplit. Kemudia siswa lain ada yang berteriak ada orang di kolam renang. Guru itu berbalik dan ternyata benar," tutur dia.

Saat diangkat, kata dia, korban sudah tidak bergerak. Siswa tersebut dibantu untuk dimiringkan dan diberi pertolongan tapi sudah tidak ada respon.

"Kolam renang itu kondisinya baru setengah jadi. Tapi belum dibuka untuk umum, " ujarnya.

Pihaknya masih mencari keterangan sekolah korban yang mengajak siswanya ke kolam tersebut.

Dirinya juga belum meminta keterangan dari pemilik kolam renang.

" Kalau saya bilang kolam itu belum jadi. Airnya keruh dasar kolam juga tidak terlihat. Tidak ada keterangan kedalaman kolam renang, " kata dia. (rtp)

Pengakuan Ashraf Soal BCL Pernah Membuat Media Malaysia Keheranan: Ya, Itu Saya!

Kisah Sugeng Wiyono Kolektor Foto Tua Asal Purwokerto, Menolak Iming-iming Mobil dari Orang Belanda

Campurkan Bahan Berbahaya Ini, Produsen Obat Kuat di Surabaya Digerebek Polisi

Kronologi Pria Jepang Positif Virus Corona setelah dari Bali, Kemana Saja Selama di Indonesia?

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved