Rabu, 6 Mei 2026

Tanaman Jagung Petani Kersana Brebes Terserang Hama Ulat Grayak

"Pada serangan tinggi juga akan menyerang bagian tongkol jagung, yang tentunya akan menggagalkan panen," tambahnya

Tayang:
Penulis: Zain Arifin Rochmat | Editor: muslimah
Istimewa
Tim dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian melakukan sosialisasi penanganan hama ulat di Desa Kersana, Kecamatan Kersana, Brebes, Rabu (29/1/2020). 

TRIBNJATENG.COM, BREBES - Hama Ulat Grayak mulai menyerang tanaman jagung di wilayah pertanian Jawa Tengah.

Wilayah yang terserang hama yang memiliki nama latin Spodoptera Frugiperda itu di antaranya di desa Kersana Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kersana, Masduk mengatakan, di desa tersebut, ada sekitar 37 hektar lahan jagung berumur 3 mingguan. Dari luasan itu, 6 hektar di antaranya sudah terdampak hama ulat.

"Kami masih awam dengan hama ulat ini. Namun sudah meresahkan, karena lahan jagung banyak terserang," katanya, Rabu (29/1/2020).

Ditambahkan, untuk luas seluruh kecamatan setempat 77 hektar. Namun pihaknya belum mendeteksi semua wilayah, baru di Desa Kersana yang sudah terdeteksi.

Untuk itu, pihaknya menyambut baik adanya sosialisasi pengendalian Ulat Grayak Spodoptera Frugiperda oleh tim Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian.

Kepala BBPOPT, Enie Tauruslina menjelaskan, bahwa dari laporan yang diterima hampir seluruh wilayah Jateng terdeteksi hama ulat ini. Sedangkan untuk wilayah Indonesia, dari 34 Provinsi 27 sudah terverifikasi kena hama ulat ini.

"Hama ini, pertama kali ditemukan di benua Amerika ke Afrika. Ngengatnya mampu terbang ratusan kilometer, dibantu angin," jelasnya.

Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, pihaknya langsung berikan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan.

Sebab, hama ulat grayak ini dapat merusak tanaman jagung dalam waktu singkat, sehingga penting melakukan pencegahan dan pengendalian hama secara dini.

"Fase yang paling merusak dari hama jagung ini saat larva atau ulat. Saat daun muda, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Jika daun habis, tentunya akan membuat pertumbuhan jagung rusak, sehingga merugikan petani," terangnya.

Petugas BBPOPT, Willing Bagariang menambahkan, Ulat Grayak selain merusak pada bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman sehingga dapat mematikan tanaman.

"Pada serangan tinggi juga akan menyerang bagian tongkol jagung, yang tentunya akan menggagalkan panen," tambahnya.

Untuk mendeteksi awal adanya hama ini, ditandai dengan adanya bekas gesekan dari larva atau ulat yang menyisakan serbuk kasar seperti serbuk gergaji pada permukaan daun. Petani, bisa melakukan pengamatan secara intensif. Jika ada tanda tanda tersebut harus segera ada tindakan.

"Jika ngengat Grayak bertelur, bisa 100 sampai 300 buah. Jika jadi larva, sebanyak jumlah telur tersebut, bisa merusak tanaman. Telur grayak sendiri, biasanya ditaruh didaun muda. Jika petani mendeteksi nya, bisa langsung diambil, sehingga tidak menetas," jelasnya. (Nal)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved